3 Periode Pengumpulan Alquran

3 Periode Pengumpulan Alquran  - Bila berbicara budaya baca dalam Islam maka bahasan yang sangat berhubungan adalah tentang sejarah Alquran. Dulu alquran adalah mushaf (kumpulan naskah) yang melalui proses panjang.

3 Periode Pengumpulan Alquran
(Internet)
Proses pengumpulan Alquran melalui dua metoda, yaitu menghafal dan menulis yang terbagi dalam 3 periode;
  1. Periode Nabi Muhammad saw., 
  2. Periode Abu Bakar Ash-Shiddiq, 
  3. Periode Usman bin ‘Affan.

Periode Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw merupakan seorang hafidz pertama dalam sejarah membaca Alquran. Selain itu Beliau juga sebagai contoh paling baik perihal hafalan Al-Qur’an-nya. 

Menghafal pada periode ini menjadi pengumpulan yang paling dominan. Pasalnya jamak dari masyarakat waktu itu kaum ummi (Q.S. Al-Jumu’ah: 2).

Yang paling istimewa dari seorang ummi, mereka mempunyai hafalan yang cepat dan kuat. Mereka terbiasa menghafalkan syair dengan jumlah banyak. Maka tidak menakjubkan tatkala jamak dari para sahabat yang hafal al-Qur’an pada periode ini. 

Dalam hadits Shahih Bukhari disebutkan; setidaknya tercantum tujuh nama yang sering disebut sebagai hafidz al-Qur’an, yaitu: 
  1. Abdullah bin Mas’ud, 
  2. Salim bin Ma’qal, 
  3. Mu’az bin Jabal, 
  4. Ubay bin Ka’b, 
  5. Zaid bin Tsabit, 
  6. Abu Zaid bin Sakan dan 
  7. Abu Darda’.
Bahkan ada sejarahnya kala itu setiap tahunnya, malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad Saw.  Jibril datang untuk membaca dan menyimak secara bergantian, hal ini bermaksud agar dapat menjaga hafalan Al-Qur’an Nabi. 

Pada satu tahun terakhir sebelum Nabi Muhammad wafat, beliau membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an sebanyak dua kali. Sebagaimana riwayat berikut;
Fatimah binti Muhammad berkata: “Nabi Muhammad SAW memberitahukan kepadaku secara rahasia; malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur’an kepadaku dan aku membaca untuknya setahun sekali. Hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an sebanyak dua kali. Fatimah kemudian menambahkan saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya kematian beliau sudah dekat”.

Makna yang terkandung dalam riwayat tersebut adalah ketika Nabi Muhammad Saw. wafat, Al-Qur’an telah dihafalkannya secara utuh seperti halnya yang diwahyukan serta telah diajarkan secara utuh untuk para sahabatnya.

Pada periode ini pun tercatat sejarah pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan dengan metode tulisan. Para sahabat yang diangkat untuk menulis Al-Qur’an, antara lain: 
  1. Zaid Bin Tsabit, 
  2. Ali Bin Abi Thalib, 
  3. Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan 
  4. Ubai Bin Ka’ab.
Pedoman yang dipegang teguh saat melakukan penulisan adalah untuk tidak menulis selain Al-Qur’an. Beberapa alat tuils yang digunakan pun masih sangat sederhana, seperti: 
  • ‘usub (pelepah kurma), 
  • likhaf (batu halus berwarna putih), 
  • riqa’ (kulit), 
  • aktaf (tulang unta), dan 
  • aqtab (bantalan dari kayu yang biasa dipasang di atas punggung unta).

Periode Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pada periode Abu Bakar Ash-Shiddiq, mulai banyak kekacauan, terutama kekecauan yang dipimpin oleh Musailamah al-Khadzdzab bersama para pengikutnya sampai terjadi peperangan. 

Salah satunya adalah Perang Yamamah yang terjadi pada 12 H, tercacat sekitar 70 penghafal Al-Qur’an dari para sahabat gugur. Bahkan ada riwayat lain yang menyebutkan sekitar 500 orang, dan mengakibatkan al-Qur’an punah.

Sampai akhirnya muncul gagasan dari Umar bin Khattab yang mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an dalam sebuah mushaf. 

Umar khawatir bahwa Al-Qur’an akan lenyap apabila hanya mengandalkan para penghafal Al-Qur’an, terlebih ketika semakin banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan.

Abu Bakar sempat menolak usulan Umar dengan alasan bahwa Nabi tidak pernah melakukan sebelumnya. Mendengar hal tersebut, Umar menceritakan keresahannya kepada Zaid bin Tsabit. 

Respon Zaid pun tak jauh berbeda dengan Abu Bakar, bahkan Zaid mengungkapkan “seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidak lebih berat bagiku daripada mengumpulkan al-Qur’an yang engkau perintahkan.”

Namun, setelah mempertimbangkan perihal kebaikan dan manfaatnya, Abu Bakar dan Zaid pun menyetujuinya. Kemudian Abu bakar memerintahkan Zaid untuk menuliskan Al-Qur’an, mengingat kedudukannya dalam qira’at, penulisan, pemahaman, kecerdasan, serta kehadirannya dalam pembacaan terakhir kali.

Setelah Abu Bakar wafat pada 13 H, mushaf tersebut berpindah ke tangan Umar hingga beliau wafat. Setelahnya, berpindah lagi ke tangan Hafsah, putri Umar yang pernah menjadi istri Nabi yang juga hafidzah dan pandai baca tulis, atas wasiat Umar.

Periode Usman bin ‘Affan

Pada periode Usman bin’ Affan, wilayah penyebaran Islam semakin luas, para pengajar Al-Qur’an pun diperlukan lebih. Huzdzaifah bin Yaman, seorang pemimpin prajurit Islam di perbatasan Azerbaijan dan Armenia, melihat perbedaan di kalangan umat Islam dalam membaca Al-Qur’an. Beliau khawatir jika perbedaan tersebut lambat laun akan mengancam kesatuan Al-Qur’an dan persatuan umat Islam di kemudian hari.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, Huzdzaifah segera pergi menemui Usman dan berkata, “aku telah memberikan peringatan secara terbuka, karena itu dimohon kepada khalifah untuk menemui umat Islam.”

Menurut beberapa riwayat, Usman mengadakan pertemuan dengan para sahabat, setelah menerima laporan tersebut. Hasil akhirnya adalah dengan menyeragamkan umat Islam pada satu mushaf sehingga tidak ada lagi perbedaan dan perselisihan.

Lebih lanjut, Usman bin ‘Affan mengambil beberapa langkah sebagaimana terkandung dalam riwayat Bukhori; Pertama, meminjam mushaf resmi yang telah dikerjakan oleh Zaid pada masa Abu Bakar kepada hafsah untuk disalin ke dalam beberapa mushaf.

Kedua, membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam.

Ketiga, setelah panitia selesai melakukan tugasnya, maka mushaf-mushaf tersebut dikirim ke berbagai pusat negeri Islam.

Keempat, memerintahkan kepada kaum Muslim di seluruh negara Islam untuk membakar semua mushaf dan catatan-catatan al-Qur’an yang tidak sesuai dengan mushaf yang telah mereka terima.

Dari catatan sejarah perihal pengumpulan Al-Qur’an di atas, maka dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an yang beredar dan digunakan sampai hari ini adalah Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Walaupun telah melalui proses panjang dalam hal pengumpulannya. Akan tetapi, segi keotentikan Al-Qur’an tetaplah terjaga. Selain karena dijamin langsung oleh Allah, dalam hal pengumpulannya pun sangat hati-hati dan hanya dilakukan oleh orang-orang terpercaya.

Sumber: https://islami.co/sejarah-al-quran-periode-nabi-muhammad-saw-dan-khulafaur-rasyidin/

Comments

Popular posts from this blog

Pengiriman Buku Jurus Sehat ke Beberapa Kota